Shafiyah Binti Abdul Muththalib
(Saudara Perempuan Teladan Dalam Islam)


Dari: "An-Nisaa' Haula Ar-Rasuul" (diterjemahkan menjadi "Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW") oleh Muhammad Ibrahim Saliim. Diketik oleh: Hanies Ambarsari.
        Dia adalah saudara ayah Rasulullah SAW dan ibu Az-Zubair bin
Awwam serta saudara kandung Hamzah, Singa Allah, paman Nabi SAW dan
orang yang dicintainya. Dia masuk Islam bersama kelompok pertama yang
beriman kepada Nabi SAW yang mulia dan ikut hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Wanita yang Sabar dan Mengharapkan Pahala
        
        Sedikit di antara wanita-wanita Arab yang dapat menandinginya
dalam hal kemuliaan asal atau kemuliaan cabang. Allah SWT memberinya
kekuatan iman dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan, dan kesediaan
berkorban di jalan-Nya. Dia adalah contoh bagi saudara perempuan yang
sabar dan mengharap pahala serta ridho dengan keputusan Allah SWT.

        Dalam perang Uhud, ketika para juru panah meninggalkan posisi
mereka untuk mengambil harta rampasan perang dengan melanggar perintah
Nabi SAW, datanglah musuh mereka dari belakang menyerangnya. Pada waktu
itu Hind binti Utbah, suami Abi Sufyan dan ibu Khalifah Muawiyah telah
keluar bersama pasukan musyrikin untuk membalas dendam atas kematian
ayah dan pamannya yang dibunuh Hamzah dalam Perang Badr. 

        Dia membujuk budaknya, bernama Wahsyi, bahwa jika dia berhasil
membunuh Hamzah, maka dia akan mendapat imbalan harta sebanyak yang 
disukainya. Maka terjadilah apa yang diinginkan oleh Hind. Wahsyi dapat
berhasil melempar Hamzah dengan tombaknya, sebagaimana dilakukan oleh
orang-orang Habasyah, sehingga Hamzah rebah dan tewas. Kemudian Wahsyi
berlari menemui majikannya yang menari bersama rombongan wanita Quraisy,
sementara mereka memukul rebana untuk memberi semangat kepada kaum laki-
laki Quraisy. Lalu Hind bergegas pergi bersama Wahsyi yang telah menyam-
paikan kabar gembira itu kepadanya. Dia mulai membelah dada Hamzah dan
mencabut hatinya, kemudian mengunyahnya dengan gigi-giginya untuk memu-
askan diri dan membalas dendam. [Astaghfirullaahal adziim, Naudzubillaahi
min dzaalik]

        Shafiyah, saudara sang syahid Singa Allah, mendengar berita ini. 
Maka dia pun datang ke medan pertempuran mencarinya. Rasul SAW melihat
dan mengetahui bahwa bibinya akan menghadapi situasi yang sulit bila
melihat Hamzah dalam keadaan itu. Maka beliau berkata kepada puteranya,
Az-Zubair :"Suruhlah dia kembali, agar tidak menyaksikan keadaan sauda-
ranya itu." Kemudian Az-Zubair pergi dan berkata kepadanya dengan suara
tenang namun sedih :"Wahai, Ibuku, sesungguhnya Rasulullah SAW menyuruhmu
kembali." 

        Shafiyah menjawab dengan segera dalam ketenangan dan keyakinan :
"Mengapa ? Aku telah mendengar bahwa saudaraku itu telah dirusak tubuhnya
dan hal itu demi Allah. Maka kami ridho atas kejadian itu dan aku akan
bersabar dengan baik dan akan mengharap pahala, insyaAllah." Az-Zubair
kembali mengabari Rasulullah SAW tentang kesabaran dan ketabahan yang 
ditunjukkan Shafiyah, dan dia sampaikan perkataan ibunya itu kepada Nabi
SAW. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya :"Biarkan dia pergi."

        Shafiyah bersikap tabah dan teguh. Dia memandang sang syahid 
dengan pandangan perpisahan seraya berkata :"Semoga Allah melimpahkan 
sholawat kepadamu, wahai, Abu Ammaroh dan mengampuni dosamu. Kita adalah
kaum yang terbiasa mengalami pembunuhan dan mati syahid. Tiada daya dan
kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah. Sesungguhnya kita adalah
kepunyaan Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Cukuplah
Allah sebagai pelindungku dan Dia-lah sebaik-baik Pelindung. Semoga Allah
mengampuni dosamu dan dosaku serta membalasmu dengan balasan bagi hamba-
hamba-Nya yang mukhlis."

        Hari-hari berlalu dan keteguhan Shafiyah dalam perang Uhud tetap
menjadi contoh yang tinggi dalam hal kesabaran dan ketabahan. Sesungguh-
nya kehidupan Shafiyah seluruhnya adalah pelajaran. 

Kepahlawanan Wanita dan Laki-laki

        Dalam Perang Khandaq, Shafiyah berada bersama para wanita dan 
anak-anak di dalam benteng yang dijaga Hassan bin Tsabit, penyair Nabi
SAW. Situasi di Madinah sangat gawat, karena dikepung dari segenap
penjuru. Yahudi Bani Quraidhah telah mengkhianati janji. Medinah ter-
ancam dari dalam dan dari luar. Di sinilah kemudian Shafiyah melihat 
orang Yahudi berkeliling di benteng dan melewati parit pertahanan. Maka
Shafiyah berkata kepada Hassan :"Hai, Hassan, orang Yahudi itu mengelilingi
benteng. Aku khawatir dia akan menunjukkan rahasia kita kepada orang-orang
Yahudi yang di belakang kita."

        Tahukah Anda, apa yang dilakukan oleh Hassan ? Hassan takut perang
dan menghindari pertempuran. Dia berkata :"Semoga Allah mengampuni dosamu,
wahai, puteri Abdul Muththalib. Demi Allah, engkau tentu sudah lama tahu
aku bukanlah orang yang bertugas melakukan hal ini dan tidak mempunyai 
kekuatan untuk itu." Wanita-wanita keluarga Rasulullah SAW termasuk Shafi-
yah, berada dalam bahaya. Maka bagaimana dia bisa berdiam diri ? Shafiyah
mengambil sebatang tiang kemah dan keluar dari benteng, lalu menyerang
orang Yahudi itu. Dia memukul kepala orang itu dengan tiang hingga roboh
ke bumi. 

        Ketika itu Shafiyah memukulnya berulang-ulang hingga menewaskannya.
Lalu dia kembali ke benteng dan melemparkan tiang itu dari tangannya, dan
dia kembali kepada Hassan serta berkata :"Hai, Hassan, aku telah membunuh
orang Yahudi itu. Turunlah dan rampaslah harta bendanya. Aku tidak bisa
melakukannya karena dia seorang laki-laki, sedang aku seorang wanita."
Penyair itu menjawab :"Demi Allah, aku tidak punya keperluan (hak) untuk
merampasnya, wahai, puteri Abdul Muththalib."

        Adalah Shafiyah mengabdi pada da'wah di sekitar Rasulullah SAW
dengan kekuatan, kesabaran dan keberanian serta ketepatan pendapat dan
membela kehormatan. Takdir telah menghendaki adanya penimbangan antara
kepahlawanan wanita dan laki-laki dalam satu peristiwa. Dalam suatu sikap,
orang laki-laki meninggalkan keberanian yang justru diharapkan darinya. 
Dia relah meninggalkan sikap pahlawan untuk diberikannya kepada seorang
wanita yang mestinya kurang keberaniannya dibandingkan laki-laki. 

        Di sini, sejarah tidak ketinggalan sedikit pun untuk mencatat
keberanian orang wanita dalam suatu keadaan, di mana orang laki-laki
tidak melakukannya. Marilah kita buka kembali buku sejarah, siirah,
khabar-khabar (hadits), cerita peperangan atau biografi dan kitab Tha-
baqaat, pastilah kita temukan kisah Shafiyah binti Abul Muththalib 
bersama mata-mata Yahudi yang memata-matai untuk mengetahui rahasia 
kaum Muslimin.  Ibnu Hisyam mencatat peristiwa Shafiyah dengan orang
Yahudi itu sebagai nukilan dari sejarawan Ibnu Ishaq.

        Sejarah memelihara kehebatan Shafiyah ini, agar dapat diikuti
oleh wanita dari tahun ke tahun, sepanjang zaman. Mata-mata Yahudi
selalu berada di setiap tempat untuk mengawasi kita. Mereka menyiapkan
segala persiapan untuk mendirikan negara di atas tulang-belulang korban-
korban kita. Apakah sejarahh akan mengulangi dirinya sehingga kita bisa
menemukan seseorang di antara wanita-wanita kita yang menghadapi para
mata-mata itu ? Kita harapkan adanya seorang "Shafiyah" dalam setiap
pertempuran yang dicatat dalam sejarah mengenai keberaniannya. 

        Sejarah Shafiyah ini menyerukan kepada setiap laki-laki dan 
wanita Arab :"Bukalah mata kalian dan waspadalah terhadap bahaya-
bahaya di sekeliling kalian."